assalamu'alaikum wr. wb

welcome to my world
dunia tulisku
di sini kalian akan menemukan beberapa karya tulisku baik itu puisi, cerpen, esai dan lain- lain...
selamat menyusuri tulisan demi tulisan di sini
semoga kalian menikmati
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2011

Di antara impian dan peluang karir

“ Mimpi adalah kunci, untuk  kita menaklukkan dunia”. Demikian bunyi penggalan sebuah lagu populer. Ini benar adanya. Karena dengan impian, maka ada tujuan hidup yang hendak dicapai atau dituju.
            Bagi umumnya orang, impian sudah mulai terbangun sejak kecil. Di mana impian sering kali dibangun dari kegemaran atau hobby dan dari potensi atau bakat yang dimiliki. Bangunan impian tersebut kemudian diupayakan pencapaiannya dengan berbagai cara.
            Di antara cara yang diupayakan untuk mewujudkan impian tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Mengembangkan kegemaran atau hobby
2.      Mengeksplorasi potensi atau bakat
3.      Membekali diri dengan pengetahuan yang sesuai dengan bidang impian
Namun faktanya, segala usaha yang telah diupayakan , belum tentu berhasil mewujudkan sebuah impian. Salah satu faktor tersebut adalah peluang yang datang, meski tidak menutup faktor- faktor lain yang tentu saja berbeda- beda antar masing-masing orang. Ini berdasar dengan pegalaman yang saya alami.
Impian saya adalah menjadi seorang Diplomat. Impian ini terbangun bermula dari ketertarikan saya melihat kerja seorang diplomat. Mereka bisa berpindah dari satu negara ke negara lain dalam kurun waktu tertentu dengan membawa misi diplomasi dari negara sang diplomat. Saya pikir itu adalah sebuah karir hebat untuk saya impikan.
Berbagai cara saya upayakan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Mengasah kemampuan berbahasa asing, menempuh pendidikan yang memungkinkan untuk berkarir di bidang tersebut dan menambah pengetahuan tentang diplomasi melalui seminar maupun buku.
Sampai kemudian, peluang berkarir di bidang lain datang. Peluang itu adalah peluang menjadi seorang guru.
Bagi sebagian orang, menjadi guru barangkali sebuah impian.tapi tidak demikian bagi saya. Guru bukanlah karir yang saya impikan sebelumnya.
Namun di tengah impian  yang belum kunjung mampu saya wujudkan, peluang ini menjadi sebuah tawaran realistis menurut pikiran saya ketika itu. Maka saya memanfaatkan peluang tersebut dengan dalih menjadikannya bantu loncatan menambah pengalaman saya, seraya terus memupuk harapan untuk bisa mewujudkan mimpi saya kelak .
Demikian menjadi sekelumit gambaran, bahwa di saat impian belum jua mampu terwujud, mengambil peluang yang ada tak jarang menjadi pilihan realistis untuk membangun sebuah impian baru dalam berkarir.
Terlebih di tengah sulitnya membangun sebuah karir belakangan ini, peluang seolah menjadi sedikit pemecah kebuntuan untuk membangun sebuah karir lain yang sebelumnya bukan merupakan karir impian.
>>> tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis essai-karir yang diadakan penrbit arias bekerjasama dengan hasfa publisher

Wanita dan Dunia Digital


            Dewasa ini, kita berada dalam sebuah dunia yang disebut dengan dunia digital. Dunia di mana kecanggihan dan kemutakhiran Technology menjadi teman kita.
            Coba bertanya  pada setiap orang yang kita temui, bahkan pada siswa sekolah dasar sekalipun. Banyak dari mereka mengenal apa itu handphone, komputer, playstation, kamera digital maupun internet. Sejauh mata memandang, maka kita akan menemukan berderet- deret counter handphone, warung internet, studio digital dan gerai komputer di sepanjang pertokoan ataupun pusat perbelanjaan.
            Demikian itu merupakan bukti kemajuan Technology, yang membawa kita pada sebuah dunia baru yang berbeda dengan dunia kita dahulu. Dunia di mana hanya mengenal surat untuk berkirim kabar, layar tancap untuk tontonan atau petak umpet untuk permainan. Bandingkan dengan sekarang. Kita hanya perlu beberapa detik untuk berkirim kabar melalui handphone, kita memiliki banyak pilihan untuk menonton, bisa melalui bioskop,CD, dan VCD, atau anak- anak kita bisa dimanjakan dengan permainan canggih bernama playstation. Semua benda tersebut adalah benda yang lahir dari dunia digital.
            Berbeda dengan dunia dapur yang sering dilekatkan pada wanita dan dunia kerja yang dilekatkan pada pria, maka dunia digital bebas dari stigma atu cap kepada siapa dilekatkan. Artinya baik wanita maupun pria memiliki kekuasaan yang sama untuk bisa mengakses dan berpartisipasi dalam perkembangan dunia digital. Ketiadaan stigma dalam dunia digital, memberikan  ruang yang lebar dan luas bagi wanita untuk melek Technology dan tidak gagap terhadap barang- barang yang muncul dari dunia digital tersebut.
            Ingat kasus Prita mulyasari? Seorang wanita biasa yang mendadak menjadi pusat perhatian karena tulisannya. Kemelekannya terhadap dunia digital dalam hal ini diwakili oleh internet, mampu menggerakkan empati begitu banyak orang untuk mengulurkan koin- koin mereka dalam “ koin prita”, maupun menggerakkan nurani orang- orang sehingga tercipta gelombang demonstrasi menuntut kebebasannya.
            Ingat juga cerita video Shinta dan  Jojo ?. kemampuan mereka dalam menyerap kecanggihan Technology dunia digital, membawa mereka menjadi artis secara instan. Keisengan mereka mengunduh video lipsyinc di youtube berbuah  tawaran- tawaran pada mereka yang menjadikan  kantong mereka lebih tebal.
            Wanita- wanita seperti  prita mulyasari, Shinta dan jojo adalah sedikit wanita yang tidak hanya terpaku pada urusan dalam dunia dapur semata, tetapi juga terjun dalam dunia digital. Karena memang kondisi  di era milenium di mana digitalisasi menjadi gaya hidup, menuntut semua orang tak terkecuali wanita bergerak keluar dari zona kebiasaan.
            Jika wanita seperti RA Kartini yang dianggapsebgi tokoh emansipasi wanita mengungkapkan ide- ide, pemikiran dan kegelisahannya hanya melalui surat- surat yang dikirim kepada sahabat- sahabatnya, maka wanita- wanita pada zaman sekarang mampu menuangkannya melalui media yang jauh lebih canggih seperti internet. Wanita pada generasi sekarang dimudahakan untuk bisa menuangkan ide- ide dan gagasannya melalui media blogger, situs pertemanan maupun surat elektronik email.
            Jadi jika seorang Kartini saja dengan keterbatasan sarana dan keadaan pada masanya mampu membuat perubahan, tentu saja kita para wanita Indonesia yang hidup pada zaman digital ini seharusnya mampu berbuat lebih banyak dalam perubahan dengan sarana dan Technology yang ada.

>>> karya ini diikutkan dalam lomba essai  untuk memperingati hari kartini yang diadakan oleh hasfa publisher.